head-12

PRODUK & JASA
TRANSAKSI
KONTAK KAMI
phone 0812 5469 9113
whatsApps 0812 5469 9113
email harysmwt@gmail.com
WAKTU
jadwal-sholat
SINGSINGKAN LENGAN & KENCANGKAN IKAT PINGGANG >>>STOP HUTANG & SISTEM RIBAWI !<<<

1
REFLEKSI 72 TAHUN INDONESIA MERDEKA
CERMIN RETAK
Oleh : Suharyono Soemarwoto.,MM
(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan; Mahasiswa S2 Prodi Doktor Ilmu
Ekonomi Univ. Trisakti)
Email : harysmwt@gmail.com, Www.webkita.net
Bercermin dengan cermin retak pastilah akan nampak kepongahan, keganjilan dan
ketidak-obyektifam atas apa yang seharusnya terjadi. Andai retaknya sedikit akan nampak juga
pada sisi retaknya itu. Bagaimana halnya dengan banyak retak atau bahkan diretakkan demi
kepentingan tertentu? Mari kita coba lakukan refleksi diri atas kemerdekaan yang diberikan
Alloh SWT kepada kita rakyat, bangsa dan negara Kesatuan Republik Indonesia; sudahkan
sesuai harapan atau salah arah?
Merdeka…! Merdeka…! Merdeka…!
Kemerdekaan Indonesia mustahil, tidak mungkin diraih hanya berpangku tangan, tanpa kerja
keras, tanpa nasionalisme, tanpa perjuangan yang militan penuh keberanian jiwa patriotisme
yang sangat luar bisasa. Pengorbanan jiwa raga, harta dan apa yang merka punyai telah
dibuktikan. Mereka para pejuang kemerdekaan telah menjadi syuhada dan pahlawan bangsa dan
negara kesatuan Republik Indonesia. Yaa Alloh, terimalah amal shalihnya, lipatgandakan
pahalanya; ampunilah dosa-dosanya dan jadikalah kita sebagai generasi penerusnya yang
mampu mewarisi nilai-nilai perjuangan mereka. Tidak khianat atas kemerdekaan ini. Mampu
mewujudkan semua cita-cita mereka ”Indonesia Merdeka”. Aaami yaa Robbal’alaamien.
Kini 72 tahun sudah Indonesia Merdeka. Subhanlloh wallhamdulillah, Alloh SWT masih
memberi karunia kemerdekaan ini kepada rakyat, bangsa dan negara kita. Sementara di belahan
dunia sana, masih ada rakyat, bangsa-bangsa yang terjajah, terjadi pemusnahan etnis dan perang
2
dimana-mana. Kita wajib bersyukur hingga kini masih dikarunia oleh Alloh SWT menjadi
negara yang berdaulat. Misalnya Palestina sudah setengah abad (50 tahunan) dalam
imperalisme namun hingga kini belum jua terwujud kemerdekaan. Dulu ada suku aborigin di
Australia – suku bangsa asli di benua tersebut yang kini hampir punahlah mereka. Juga suku
bangsa Aborigin, Indian, Melayu di Singapura sekarang hampir punah. Dan kita tidak boleh
punah. Semua elemen kebangsaan harus bersatupadu menyelesaikan persoaaln prinsip dan
mendasar ini dengan cepat agr kita tetap eksis berdaulat sepanjang masa dan untuk
selama-lamanya. Mari semua anak bangsa Indonesia jangan terlena, waspadalah bahwa apa
yang ada di hadapan kita itu semua bukan kami punya.
Bukan Kami Punya
Pusisi-esai TBKP (Tapi Bukan Kami Punya) karya Denny JA – Pendiri Lingkaran Survei
Indonesia (LSI) yang dibacakan panglima TNI pada bulan Mei yang telah lalu : ”Sungguh Jaka
tak mengerti, Mengapa ia dipanggil polisi, Ia datang sejak pagi, Katanya akan diinterogasi.
Dilihatnya Garuda Pancasila, Tertempel di dinding dengan gagah, Terpana dan terdiam si Jaka.
Dari mata burung garuda; Ia melihat dirinya. Dari dada burung garuda, Ia melihat desa, Dari
kaki burung garuda, Ia melihat kota, Dari kepala burung garuda, Ia melihat Indonesia; Lihatlah
hidup di desa, Sangat subur tanahnya, Sangat luas sawahnya, Tapi Bukan Kami Punya; Lihat
padi menguning, Menghiasi bumi sekeliling, Desa yang kaya raya, Tapi Bukan Kami Punya
Lihatlah hidup di kota, Pasar swalayan tertata, Ramai pasarnya, Tapi Bukan Kami Punya.
Lihatlah aneka barang, Dijual belikan orang, Oh makmurnya, Tapi Bukan Kami Punya. Jaka
terus terpana, Entah mengapa, Menetes air mata ,Air mata itu Ia yang Punya”
Inti dari puisi dimaksud adalah situasi kekinian yang menggambarkan situasi dan kondisi
yang ternyata itu semua bukan milik kami. Kita kehilangan jatidiri keasliannya. Hanya sebagai
penonton yang ikut bersorak sorai karena terlena. Kita punya potensi sangat besar, kita
mestinya mampu berdikari atas kekuatan sendiri. Kita punya sumberdaya alam melimpah, kita
punya bonus demografi yang memadai dan perlu penangan serius lurus semata-mata demi
kepentingan rakyat, bangsa dan NKRI.
Dampak kebijakan yang salah arah dan tidak memproteksi kaum pribumi harus dihentikan.
Kita harus mengembalikan pada yang berhak atas negeri ini. Kepada para pemimpin yang
dipilih rakyat melalui mekanisme pemilu yang sangat mahal, hendaknya fokus dan amanah agar
jatidiri keindonesiaan kita, keasliannya kita tidak punah tergilas oleh roda-roda globalisasi atau
ancaman-ancaman lain entah itu apa namanya. Dan yang pasti kita tidak ingin keaslian
Indonesian menjadi punah menjadi seperti suku Aborigin , suku Indian atau lainnya yang punah.
Selama hayat masih dikandung badan bumi yang dianugerahkan kepada Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) wajib kita jaga dan bela sampai titik darah penghabisan. Dan
pastikan agar anak cucu negeri Indonesia ini sebagai generasi penerus bangsa sesuai cita-cita
proklamasi tidak akan kehilangan sedikitpun dari keindonesiaan ini sesuai amanah Prolamasi 17
3
Agustur 1945 maupun nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Tiap-tiap kalian adalah pemimpin
dan akan dimintai pertanggungjawabnnya kepada Alloh Tuhan yang Maha Esa.
Ada juga di suatu tempat, ada pimpinan perusahaan yang digaji dengan uang negara tidak
mau menyelengarakan upacara bendera padahal fasilitasnya sangat lengkap, termasuk lapangan
outdoor dan indoor. Ini bertentangan dengan perintash satuan di atasnya, juga bertentangan
dengan Inpres tentang Upacara Bendera No.14/1981. Dimana nasionalisme mereka?
Memangnya kalau tidak merdeka, mereka dapat menikmati pendidikan dan pekerjaan yang
sangat layak itu?
Ada Keberhasilan, Tapi Masih Menyisakan Persoalan
Ada keberhasilan atas apa yang telah dilakukan sejak 72 th Indonesia Merdeka.
Alhamdulillah ada sisi yang baik yang ini wajib dipertahankan dan dikembangkan. Janganlah
dilihat dengan cermin retak. Apalagi teretakkanya disengaja dibikin seolah-olah semua sudah
baik tidak ada yang kurang. Ada anasir-anasir tertentu misalnya menebar citra, politik adu
domba, menang sendiri, alihkan isu, jebakan batman atas lawan-lawannya, termasuk campur
tangan asing. Terlebih tahun ini telah menggeliat perpolitikan menjelang Pemilu 2019.
Jarak ketimpangan sosial semakin sangat jauh, si kaya semakin merajalela, si miskin
semakin sangat menderita terlunta-lunta. Ini bisa kita lihat, apaabila kita bernai mengatakan apa
adanya dan bercermin dengan cermin yang tidak retak. Misalnya di Kalimantan Timur tingkat
penganguran dan kemiskinan masih tinggi, padahal di provinsi ini sangat kaya akan sumberdaya
alamnya, batubarta, migas dan lain-lain. Sungguh ironi memang, bagaikan ayam mati di
lumbung padi.
Di sisi lain, secara nasional jumlah utang negara melambung tinggi hingga Rp 3.672 Triliun
pada kwartal I/2017. Membebani setiap warga negara yang baru lahir sekalipun sekitar Rp
16-an juta. Daya beli masyarakat sangat menurun, lapangan pekerjaan tak kunjung ada, PHK
dimana-mana, imigran gelap merajalela, narkoba (baru-baru ini tertangkapnya artis ibukota) ,
korupsi), perpecahan akibat sara maupun perbedaan pilihan politik, aliran ekstrim kanan dan
ektrim kiri, kualitas pendidikan, daya saing global yang rendah, persoalan kekayaan laut,
perbatasan, pulau-pulau terluar. Aparatur negara pun mengalami dekadensi moral ada 318
kepala daerah baik gubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati, wali kota, wakil wali kota
dipenjarakan karena korupsi; termasuk anggota legislatif, judikatif, maupun Aparatur Sipil
Negara (ASN) lainnya. Termasuk baru-baru ini, ada korupsi dana desa yang melibatkan Bupati,
Jaksa dan kroni-kroninya di oulau seberang Bumimoro Surabaya. Banyak motif dan
kepentingan, untuk perpolitikan kita ternyata benang merahnya ada pada iman taqwa serta
dampak negatif dari pemilu berbiaya sangat sangat mahal. Umumnya mereka maju ikut pemilu
tidak memiliki modal uang yang cukup, sehingga kusak-kusuk cari cukong penyokongnya. Ini
the real man/woman yang bakal membelenggunya. Jika mereka incumbent/petahana makan
4
potensi untuk utak-utik dana hibah, bansos, CSR untuk kepentingannya.
Perekonomian rakyat seperti usaha mikro, kecil, menegah dan koperasi masih jauh dari
harapan. Koperasi sebagai soko guru perkenaomian rakyat yang sesuai dengan UUD 1945
terlindas habis oleh usaha-usaha konglomerasi baik nasional maupun global. Koperasi ibarat
hidup segan mati tak mau. Dalam kondisi mati suri-sakaatul maut. Saat ini jumlah koperasi di
Indonesia sebanyak 209.000-an , dibekukan/ditutup sebanyak 62.000-an karena tidak aktif.
Selebihnya 147.000-an perlu dilakukan Reformasi total untuk mendongkrak citra dan peranan
koperasi Indonesia melalui 3 (tigas) agenda utama yaitu RRP (Rehabilitasi, Reorientasi dan
Pengembangan. Sedangkan jumlah Koperasi Syariah seluruh Indonesia baru mencapai 150. 223
unit (71 persen dari 209.000 koperasi ribawi). Status dan kodisinya sangat bagus, berkualitas
dari sisi kesehatan koperasi, SDM (sumberdaya manusia) maupun IT (Information
Technology). Koperasi syariah ini sangat potensial terlebih apabila mendapatkan proteksi dan
keberpihakan negara serta ditunjang oleh optimalisasi wakaf, infaq dan zakat harta demi
sebesar-besarnya kesejahteraan umat. Termasuk heboh otak-atik dana haji untuk pembangunan
infrasturktur menutupi APBN.
Disisi lain, Penerimaan negara dari pajak kelas kakap terlewatkan, umumnya mereka punya
koneksi & proteksi di luar negeri, ada maslah di sisni merkea hengkang ke negara lain; akhirnya
rakyatlah yang menanggungnya. Kasus BLBI, bank century, divestasi saham Indosat, kasus
lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan (kini menjadi milik Malaysia), Utang luar negeri untuk apa,
kemana pos-posnya?, investasi bodong merongrong orang-orang yang inginnya nongkrong tapi
dapat untung. Begitu pun, Manusia Indonesia sebagai faktor utama dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara belum mendapatkan perhatian serius. Daya saing masih rendah, tingkat
pendidikan —angkatan kerja— mayortitas lulusan sekolah dasar, persolan tenaga kerja masih
terpinggirkan, jumlah Serikat Buruh/Serikat Pekerja baru sekitar 2% dari 380-an ribu
perusahaan. Angaran pendidikan 20% dari APBN masih menyisakan persoalan panjang,
kurikulum yang gonta-ganti dan tidak link and match dengan dunia kerja, infrastruktur
pendidikan, daya tampung yang tidak memadai, angka putus sekolah yang tinggi.
Pemilu 5 Kotak pada 2019
Tahun 2008, penulis telah mempublikasikan gagasan agar pemilu diadakan serentak
sebagaimana tertulis dalam weblog hary berbicara maupun website www.webkita.net. Dalam
perkembangannya pemilu serentak baru dimulai pada tahun 2015 dengan digelarnya Pilkada
Serentak ke-1; dengan maksud utamanya menyederhanakan penyelenggaraannya sekaligus
mempermurah pembiayaannya. Insyaalloh, nanti pada April 2019 akan diadakan pemilu
serentak, para pemilih akan disuguhkan 5 (lima) kotak suara sesuai
keterwakilan/peruntukkannya disertai banyak dan lebarnya kartu suara. Pemilu yang
5
direncanakan akan brlangsung pada April 2019 sebagai pemilu 5 Kotak. Ada lima konteastan
yang harus dipilih meliputi 1) Anggota DPRRI, 2) Anggota DPRD Provinsi, 3) Anggota DPRD
Kab/Kota, 4) Anggota DPD dan 5) Presiden/Wakil Presiden. Sementara itu pengesahan UU
Pemilu masih menyisakan persoalan setelah hampir 9 bulan dilakukan pembahasan yang alot
penuh adu akal dan okol; bahkan kini sedang digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Obral Dukungan Pengkultusan Individu
Fenomena obral dukungan, entah apa istilahnya merupakan bentuk kegagalan suatu partai
politik membina dan menyiapkan kader terbaiknya untuk bersaing dalam kancah pemilu.
Pernyataan dukungan, obral dukungan tak ubahnya kebulatan tekad pada zaman orde baru yang
muaranya pada kultus individu serta ujung-unjungnya menyengsarakan rakyat. Suasana kini
mulai menghangat, tanpa basa-basi disana-sini banyak si penebar citra, memoles diri
bersenandung mencari pendukung. Tahun politik telah menggeliat, ada pilkada serentak 2018
mapun Pemilu 2019 yang akan lebih kompleks dan rumit dibanding 2014. Ini tantang besar
bangsa ini untuk menyelenggarakan pemilu yang ultra extra mahal.. Ini menuntut semua pihak,
terutama KPU untuk bekerja lebih cepat dan tepat mengingat waktunya tinggal 20-an bulan
lagi. Potensi sengketa sangat tinggi sehingga MK pun harus keras keras dan benar demi
keadilan yang seadil-adilnya agar rakyat dan bangsa ini tidak terbelah, tidak bercerai berai
karena pemilu. Para kontestan harus siap kalah karena yang menang jumlahnya sedikit. Jangan
sampai hutang untuk maju jadi kontestan karena kalau kalah pasti akan stress dan menghuni
rumah sakit jiwa.Pemilu 2019 bagaikan pelangi harus menjadi khazanah perpolitikan
Indonesia.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Untuk mengantisipasi agar terjamin keutuhan ke-Indonesia-an kita maka sikap netral mutlak
adanya. Netral adalah harga mati bagi TNI, POLRI, ASN (Aparatus Sipil negara, sebutan baru
PNS) dan KPU. Dampak sosial yang harus diantisipasi adalah perpecahan antar kelompok raya
karena beda pilihan. Walau demikian, pemilu tetap memiliki dampak ekonomi seperti banyak
orderan alat-alat petaga kampanye seperti kaos, topi, rompi dan lain-lain. Sementara itu dampak
negatif seperti perpecahan, bentrok, permusuhan karena beda pilihan harus terus dicermati
secara seksama. Disini diperlukan sikap dewasa dan kenegaraan terutama oleh kontestan yang
kalah. Sikap kalah itu tidak gampang, terlebih jika dana kampanye karena talangan pihak
ketiga.
Puisi-esai ketidakadilan karya Denny JA pendiri Lingkaran Survey Indonesia itu berjudul
TBKP (Tapi Bukan Kami Punya). Ini cuplikannnya : ”Dari mata burung garuda; Ia melihat
dirinya. Dari dada burung garuda, Ia melihat desa, Dari kaki burung garuda, Ia melihat kota,
Dari kepala burung garuda, Ia melihat Indonesia; Lihatlah hidup di desa, Sangat subur
tanahnya, Sangat luas sawahnya, Tapi Bukan Kami Punya; Lihat padi menguning, Menghiasi
6
bumi sekeliling, Desa yang kaya raya, Tapi Bukan Kami Punya Lihatlah hidup di kota, Pasar
swalayan tertata, Ramai pasarnya, Tapi Bukan Kami Punya. Lihatlah aneka barang, Dijual
belikan orang, Oh makmurnya, Tapi Bukan Kami Punya. Jaka terus terpana, Entah mengapa,
Menetes air mata ,Air mata itu Ia yang Punya”. Dari puisi ini menggamparkan bahwa Kita
kehilangan jatidiri keasliannya. Hanya sebagai penonton yang ikut bersorak sorai karena
terlena. Kita punya potensi sangat besar, kita mestinya mampu berdikari atas kekuatan sendiri.
Kita punya sumberdaya alam melimpah, kita punya bonus demografi yang memadai dan perlu
penangan serius lurus semata-mata demi kepentingan rakyat, bangsa dan NKRI.
Waspadai Intervensi Asing
Inteligen negara pun harus bekerja keras berada pada garis terdepan mengatisipasi berbagai
kemungkinkan, termasuk intervensi asing. Disinyalir asing memainkan peranannya di berbagai
negara demi kepentingan bisnisnya; terlebih Indonesia yang kaya akan sumberdaya alam.
Semua rakyat, anak bangsa harus selalu waspada,kompak bersatu bersiaga terhadap berbagai
kemungkinan. Sishamkamrata harus kokoh dengan pilar utamanya TNI, dengan rakyat sebagai
kekuatan pendukungnya.
Harapan Kita
Kondisi yang menjamin harkat, martabat dan kemaslahatan hidup rakyat Indonesia secara
adil dan mertaa menjadi impian dan haparan kita. Semua hal yng dilakukan haruslah bertumpu
pada tujuan nasional yang termaktub dalam aline ke-4 Pembukaan UUD 1945. Kepada para
pemimpin yang sedang diberi amanah oleh rakyat, harus fokus benar-benar mengacu pada
tujuan nasional sehingga setiap apa yang dilakukan tidak boleh menyimpang. Jangan
mengorbankan kepentingan rakyat, bangsa dan negera untuk kepentingan pribadi maupun
golongan. Demi jatidiri ke-Indonesia-an kita, keasliannya kita tidak punah tergilas oleh
roda-roda korporasi, kapitalime, globalisasi atau ancaman-ancaman lain entah itu apa namanya.
Dan yang pasti kita tidak ingin keaslian Indonesian menjadi punah menjadi seperti suku
Aborigin , suku Indian atau lainnya yang punah. Selama hayat masih dikandung badan bumi
yang dianugerahkan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) wajib kita jaga dan
bela sampai titik darah penghabisan. Dan pastikan agar anak cucu negeri ini sebagai generasi
penerus bangsa sesuai cita-cita proklamasi tidak akan kehilangan sedikitpun dari keindonesiaan
ini sesuai amanah Prolamasi 17 Agustur 1945 maupun nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
Tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabnnya kepada Alloh
Tuhan yang Maha Esa. Dengan demikian, kemerdekaan yang merupakan rahmat dari Alloh
SWT dapat dijaga dan dibela untuk kesejahteraan rakyat, bangsa dan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. dan hendaknya janganlah bercermin dengan cermin yang retak; atau
diretakkan demi menaikkan citra dan dukungan. Dan akhirnya Kita berharap agar Jayalah
Indonesia, mampu menjaga keasliannya serta berdikari atas kekuatan sendiri untuk selamanya.
Aamien YRA (harysmwt@gmail.com; www.webkita.net)
7

PRODUK & JASA
TRANSAKSI
KONTAK KAMI
phone 0812 5469 9113
whatsApps 0812 5469 9113
email harysmwt@gmail.com
WAKTU
jadwal-sholat
BERITA UTAMA
Menimbang Suara Pekerja Migas
December 22, 2017
Genderang nasionalisasi telah ditabuh bertalu-talu bagaikan bedug mengiringi takbiran di sat lebaran menjelang. Ada blok Mahakam yang bakal kembali ke pangkuan Iu Pertiwi pada 1
Detak Detik Nasionalisasi
December 22, 2017
Kaltimpost 19 Juni 2017 oleh Suharyono Soemarwoto (Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan)     BERBICARA Detak berkaitan rhytm, langkah ataupun tahapan; detik berkaitan dengan waktu,
Penandatangan KKS PHM (Pertamina Hulu Mahakam)
January 17, 2016
Penandatangan KKS PHM telah dilakukan oleh Kepala SKKMigas – Amien Sunaryadi dan Direktur Pertamina Hulu Mahaman (PHM) – Ida Yusmiati pada tgl 29/12/2015 disaksikan Menteri ESDM
KALENDER
TAMU